Selasa, 31 Mei 2022

Tak Kusangka Aku Melamarmu

 

Pagi itu pikirannya meracau. Jamal mulai bingung dengan dirinya sendiri.  Gadis itu telah membuatnya tak bisa tidur.

Bagaimana tidak, seminggu melaksanakan kegiatan bersama telah membuat Jamal jatuh hati.

“Ah” gumam Jamal

“aku mungkin saja tertarik padana, tapi tak mungkin dia mau padaku” ungkap Jamal dalam hatinya.

Dipandangnya nanar ikan yang sedang bertengkar memperebutkan pelet didalam kolam. Dia kembali tersenyum dalam kesendiriannya.

“aduh, ampun” umpat Jamal. “Apa yang harus aku lakukan?” pekiknya. Untung tidak ada yang mendengar teriakannya. Tempat itu masih sepi dipagi hari, karena jauh dari keramaian.

Jamal duduk disebuah kebun yang terdapat kolam ikan disekelilingnya. Tempat itu merupakan usaha rintisannya bersama beberapa teman. Memang terdengar keren, seorang anak muda pengusaha kolam ikan, tapi tak usah dibayangkan berapa penghasilan mereka. Sampai dua tahun mereka masih perlu mencari tambahan modal kesana kemari akibat selalu menderita gagal panen.

Kembali ke suasana hati Jamal.

Siapa gadis itu?

Dia adalah adik kelasnya beberapa tahun yang lalu. Mereka dulunya tak saling kenal, Jamal justru mengenali wanita itu baru 2 bulan yang lalu dan baru tahu kalau mereka pernah bersekolah ditempat yang sama.

Flasback ke beberapa minggu yang lalu. Pada sebuah lembaga yang didirikannya bersama beberapa orang teman, Jamal merencakan melaksanakan sebuah kegiatan pelatihan untuk para remaja. Mereka bersepakat untuk mengadakannya selama seminggu penuh, tentunya peserta akan diinapkan disuatu tempat. Singkatnya, seluruh perencanaan dan kepanitian sudah terbentuk dan masing-masing seksi menjalankan tuganya masing-masing.

Tiba hari pelaksanaan kegiatan, seluruh peserta berdatangan dan panitia sudah siap menyambut mereka. Disitulah kegalauan Jamal dimulai.

Disela-sela istirahat panitia, perhatian Jamal terganggu dengan sebuah pemandangan yang baginya tak biasa. Pada saat-saat jam kosong, salah seorang panitia selalu menyendiri. Dia memilih tempat secara acak, kadang di taman, kadang diteras gedung, dan juga disudut-sudut ruangan.

Jamal penasaran dengan sikap panitia yang satu ini. Dia semakin ingin tahu apa sebenarnya akitiftas yang dilakukannya.

Jamal bertanya kepada si Rini, Rini sahabat dari perempuan yang sering menyendiri itu.

“Naya kenapa rin” tanya Jama ke rini.

“kenapa apanya bang?” rini balik bertanya. “perasaan dia gak kenapa-kenapa, biasa-biasa saja”. Tambah rini.

“Bukan begitu rin, aku perhatikan sikapnya agak aneh”. Kata Jamal

“aneh kenapa bang? Perasaan dia biasa-biasa saja” rini menaikkan nada suaranya. Anak ini logatnya memang agak keras. Meski bicara biasa saja, nadanya pasti tinggi.

“dia sering menghilang dari kerumunan kalian, terutama waktu panitia istirahat” Jamal mulai menjelaskan.

“aku lihat dia duduk sendiri, kalau tidak ditaman, diruangan, atau ada pernah di sudut gedung. Ada masalah dengan kalian?” tanya Jamal.

“OOO itu” rini mulai mengerti maksud Jamal. Rini memang paham sekali kebiasaan naya, tapi rini tak mau menyampaikannya ke Jamal.

“Abang lihat saja sendiri, ngapain saja dia disitu” rini menimpali dengan nada sedikit menyolot.

“ah kau rini, bikin orang penasaran saja. Ya udahlah, yang penting gak ada masalah dengan kailankan. Bukannya apa-apa rin, aku Cuma mau memastikan semua baik-baik saja supaya kegiatan kita sukses” Jamal meyakinkan Rini, meski dia semakin penasaran apa yang dilakukan Naya.

“aman bang, gak ada masalah. Naya memang begitu kebiasaannya” tambah rini.

Setelah pembicaraan dengan rini, Jamal tetap mencari tahu apa yg dilakukan oleh Naya. 

Diam-diam Jamal mulai menguntit kemana Naya pergi. Kegiatan sudah memasuki hari keempat, siang itu Naya terlihat dibangki taman sendirian sambil menunduk. 

Jamal berpura-pura lewat didepan Naya, niatnya hendak menegur. Jaraknya hanya tinggal beberapa langkah lagi, tiba-tiba langkah Jamal terhenti. Ada suara sayup lembut terdengar di telinganya. 

Lantunan ayat-ayat Al Qur'an samar terdengar dari jarak beberapa langkah didepannya. Jamal tercenung, "suara Naya kah itu?" Gumamnya. Sejenak tercenung, lalu Jamal tersadar bahwa benar gadis yang ada didepannya lah yang sedang membaca Al Qur'an.

Jamal makin penasaran dengan Naya. Siapakah gadis ini, apa ini kegiatannya setiap menyendiri?. 

Jamal mulai memperhatikan Naya dengan setiap hari. Dan ternyata setiap hari Naya menyendiri dan kegiatannya sama yaitu membaca Al Qur'an.

Jamal mulai menaruh hati pada Naya. Namun kegalauan berkecamuk dipikirannya. "Apakah rasanya ini akan berbalas, atau malah akan menjadi kekecewaan?

Kegiatan mereka akan berakhir besok pagi, sedangkan Jamal masih kalut dengan batinnya sendiri. Dia sudah terlanjur simpati pada gadis misterius itu. Dia tak mau kehilangan kesempatan.

Keesokan harinya, kegiatan pelatihan yang mereka adakan selama 1 minggu penuh resmi berakhir. Sedangkan Jamal masih dalam kebingungannya sendiri. Tak seperti biasanya, dia tampak seperti orang yang telah kehilangan kesadaran. Hal ini disadari oleh temannya yang bernama Riyan.

"kenapa kau mal?" tanya riyan.

"Tak ada apa2 yan" jawab Jamal sekenanya sambil mata melihat tak tentu arah

"Gak mungkin gak ada apa-apa" kata Riyan. 

"Dari kemarin sikap mu berubah""kau seperti orang kebingungan" sambung Riyan

"ah, biasa aja kawan, aku cuma agak kelelahan. Kan seminggu ini kita kurang tidur" kata Jamal sambil berusaha menutupi apa yang sedang dia pikirkan.

Riyan tak percaya pada Jamal. "Gak baek simpan masalah sendiri, apa gunanya teman kalau gak bisa berbagi" Riyan setengah menggurui.

Jamal mengalah, kegalauannya ternyata semakin parah. "Besoklah aku cerita yan, kita selesaikan saja penutupan acaranya dulu" Jama berusaha menenangkan diri, meski itu sangat tak mungkin.

Keesokan harinya, Jamal benar-benar mendatangi Riyan.

"Yan, kita ke sungai yuk!" Jamal sedikit memaksa 

"ngapain?" Jawab Riyan.

"aku lagi bingung ni, cuma kau yang punya solusinya" kata Jamal meyakinkan Riyan agar dia mau ikut ke sungai.

"Okelah, yuk jalan" Riyan merapikan kemejanya dan beranjak kehalaman rumah.

Lalu mereka melaju membonceng sepeda motor menuju sungai yang berjarak 5 km dari rumah Riyan. Tidak begitu jauh, hanya butuh waktu 10 menit mereka sudah tiba di sungai.

"Aku bingung yan" Jamal memulai pembicaraan

"Memangnya ada masalah apa kau mal?" tanya Riyan

"Aku suka sama seseorang yan" Jamal memberanikan diri mengungkapkan isi hatinya ke Riyan

"Kalau suka ya sampaikanlah, jangan dipendam-pendam, repot amat!" Riyan menimpali dengan ketus. Memang kawan yang satu ini suka blak-blakan, gak ada remnya kalau kasih pendapat.

"Itu dia masalahnya, aku takut ditolak yan" Jamal bicara sambil menunduk.

"cemen kali kau mal, masak ditolak saja kau takut!" Riyan mengejek

"memangnya siapa perempuan itu?" tanya Riyan.

"Naya" jawab Jamal

"Apaaaa? siapa???" Riyan terkejut mendengar nama gadis itu

"Naya!" Jamal kembali mengulang namanya

"Kau pasti ditolak" timpal Riyan. "Berani sekali kau suka sama dia" Riyan menaikkan nada suaranya.

"Memangnya kenapa yan?" tanya Jamal. "apanya yang salah?" tambah Jamal.

"Bang Dani udah lamar dia mal!". "Tapi ditolak orang tuanya" kata Riyan

"Bang Dani, yang orang Sumatra?" tanya Jamal

"Ya, ditolak karena orang jauh" "ayahnya gak setuju, takut dibawa jauh" kata Ryan.

"Berarti ada peluang untuk aku yan" kata Jamal

"Udah siap menikah kau mal?" tanya Riyan tegas.

"ya belum lah" Jawab Jamal

"kalau belum siap, mendingan kau urungkan saja niatmu untuk nembak Naya" kata Riyan

"Macam mana kawan ini, bukannya dukung kawan tapi malah menjatuhkan" kata Jamal memelas

"Aku gak bisa bantu mal, kalau kau berani terserah kaulah! kata Riyan

Pupus harapan Jamal, tadinya dia berpikir bahwa Riyan dapat memberi jalan keluar dari masalah yang membingungkannya. Ternyata Riyan malah menjatuhkan semangatnya.

Malam haripun tiba, seperti beberapa malam sebelumnya Jamal tetap tak bisa tidur. bayang-bayang gadis itu menghantuinya. Dia bingung harus mulai darimana. Yang jelas dia tak mungkin mengajaknya bertemu, jangankan telpon bicarapun tak pernah.

Setelah beberapa jam duduk termenung dikolam.

Akhirnya Jamal mengumpulkan keberanian.

Diambilnya hp, Jamal mulai mengetik sms. Lalu dihapusnya lagi, diketiknya, dihapusnya lagi. Terus saja berulang-ulang sampai hampir 20 kali.

terus kali terakhir

(Assalamu'alaikum) sms Jamal ke Naya

(Wa'alaikumsalam) balas Naya seketika.

(Aku simpati sama Naya). Jamal sambil menutup mata mengirim sms itu ke Naya.

dag dig dug.....

jantung Jamal berdebar kencang, keringat dingin membasahi bajunya. Sudah beberapa lama Naya tak kunjung membalas.


Tiba-tiba hp Jamal berbunyi

Tit Tit.... tanda sms masuk


(Abang siap nikah?)

balasan singkat Naya membuat jantung jamal tiba-tiba berhenti berdetak.

Suasana hening, ikan dikolam tampak tak lagi berenang. Pepohonan disekitar kebun terdiam meski angin kencang bertiup.

Jamal menatap layar Hp nya seakan tak percaya apa yang sedang dia baca.

Tak lama, Jamal tersadar dari lamunannya dan mulai berpikir harus menjawab apa.

"betul kata Riyan, kalau belum siap menikah mending jangan kau tembak dia" gumam Jamal dalam hati.

"habis aku" kata Jamal mengumpat.

Pikirannya mulai berputar, apa yang harus dia balas ke Naya.

Kalau dia bilang belum siap, mungkin harapan menuju Naya akan hilang.

Kalau dia bilang siap, dia benar-benar belum siap.

Dalam kegalauannya itu, Jamal bermohon petunjuk kepada Sang Khalik. Kemudian akhirnya dia mendapatkan jawaban yang mungkin tepat.


(INSYAALLAH). itulah jawaban yang Jamal kirim ke Naya


lalu suasana batin Jamal, yang tadinya berkecamuk menjadi seolah damai, tenang, legaaaaa....


The End


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pemimpi memimpin

Dulu, nun jauh dikala dirimu masih jadi gembala ternak. Dulu, ketika dikau masih bersenda gurau dikubangan. Kau dan temanmu selalu berkhayal...